FPGA dan Fabrikasinya

Ketika saya mengajar mata kuliah Embedded Systems, pokok bahasan utama yang saya ajarkan adalah reconfigurable computing (FPGA) menggunakan Very High Speed Integrated Circuit Description Language (VHDL), banyak mahasiswa yang tidak memahami apa yang sebenarnya dipelajari. Bahkan banyak mahasiswa yang membandingkan dengan mikrokontroler, karena mereka sejak awal sudah dikenalkan dengan mikrokontroler.

Hal yang paling ditonjolkan dalam Field Programmable Gate Array (FPGA) adalah kemampuan untuk merancang sebuah sistem dengan mengintegrasikan berbagai algoritma dengan mengimplementasikan sistem  digital. Hasil yang didapatkan dalam perancangan FPGA lebih mengarah kepada sebuah intelectual property (IP). Perancangan IP dari suatu chip bisa difabrikasikan ke dalam teknologi silikon menjadi stand-alone chip atau bisa juga di-burn ke dalam Application Specific Integrated Circuit (ASIC). Jika difabrikasi ke dalam teknologi silikon, biaya yang dikeluarkan cukup mahal karena pabrik integrated circuit (IC) tidak akan mau menerima hanya sejumlah kecil produksi chip, namun di sisi lain fitur dan arsitektur yang dihasilkan jauh lebih baik dan ukurannya “ramping” sesuai dengan kebutuhan komponen perancangannya. Sedangkan jika di-burn ke dalam ASIC, bisa diproduksi dalam jumlah kecil, namun boros penempatan komponen perancangan (placement) karena ASIC mempunyai ukuran yang tetap, kecuali bisa memperkirakan kebutuhan komponen yang diperlukan untuk di-burn ke dalam ASIC agar bisa memakai komponen yang disediakan oleh ASIC.

FPGA digunakan untuk mendapatkan perancangan IC yang sulit didapatkan di pasaran, atau bisa juga digunakan untuk mengimplementasikan berbagai algoritma agar berlaku sebagai produk IC yang dikehendaki oleh pengguna (user). FPGA sekarang mempunyai jumlah fitur komponen gerbang yang lebih besar daripada Complex Programmable Logic Device (CPLD). Kemampuan FPGA dalam bidang computing yang real-time bisa diandalkan daripada mengaplikasikannya ke dalam mikrokontroler dan digital signal processing (DSP) chip. Fitur mikrokontroler lebih baik digunakan sebagai pengendali daripada pemroses sinyal, sedangkan DSP chip lebih baik digunakan sebagai pemroses sinyal daripada sebagai pengendali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s