FPGA sebagai System on Chip (SoC)

Field Programmable Gate Array (FPGA) dikomersialkan pada tahun 1984 dan digunakan sebagai glue logic yang merekatkan/menghubungkan antar komponen dalam satu chip. Sehingga, FPGA berperan penting sebagai tren dalam tumbuh kembangnya era integrasi komponen dalam satu chip. Tren FPGA menghadirkan sebuah implementasi konsep dari Very Large Scale Integrated (VLSI), sehingga menjadi sesuatu yang ditunggu pada masanya.

FPGA merupakan sebuah produk integrated circuit (IC) yang digunakan oleh pengguna (user) untuk mengimplemntasikan dan membuat sebuah algoritma / perancangan sesuai yang dikehendakinya. Sebagai sebuah produk, FPGA harus mempunyai pengujian perancangan yang digunakan untuk mengetahui kebenaran dari suatu perancangan. Pengujian perancangan FPGA sangat mudah karena verifikasi fungsional hanya dilakukan di lab.

Pada tahun 1990, peningkatan tren penggunaan FPGA sudah merambah menjadi tren untuk mengimplementasikan control logic. Tren tersebut membawa aplikasi FPGA menjadi suatu aplikasi yang mumpuni dengan mengintegrasikan berbagai teori yang mendasarinya.

Pada akhir tahun 1990, teknologi FPGA sudah masuk pada ranah peningkatan kerapatan dan kemampuan chip, sehingga para perancang mulai berpindah ke complex control logic dengan mendayagunakan FPGA. Perpindahan fase ini ternyata menimbulkan suatu permasalahan, karena kompleksitas memerlukan kemampuan debugging yang baik untuk mencari complex bug dan memerlukan simulasi yang sesuai.

Fase metamorfosis FPGA tersebut menjadikan FPGA sebagai kupu-kupu yang indah dan mampu terbang. Saat ini, FPGA merupakan System on Chip (SoC) yang terintegrasi dengan embedded processor, digital signal processing (DSP), dan complex intelectual property (IP). Kegunaannya pun merambah dari bidang teknologi informasi, biomedis, pertahanan militer, sistem kendali, instrumentasi fisika dan kimia, kedirgantaraan, aplikasi matematika, dan lain sebagainya. Kadang kala perancangan dalam FPGA  memerlukan banyak clock domain SoC, sehingga FPGA memerlukan pendekatan verifikasi fungsional yang lebih baik lagi.

(Tulisan lebih lanjut mengenai FPGA bisa diunduh di jurnal amikom.ac.id => http://journal.amikom.ac.id/index.php/KIDA/issue/view/628)

2 Responses

  1. mas mau tanya kalau benamin android di FPGA itu sama dengan SoC ga ya?

    • Prinsipnya mengkonfigurasi FPGA sebagai prosesor dan android digunakan sebagai sistem operasinya, ranahnya embedded systems. Pada dasarnya FPGA merupakan hardware dan mengkonfigurasinya pun menggunakan bahasa deskripsi perangkat keras, ketika dikonfigurasi menggunakan bahasa pemrograman, FPGA tidak begitu optimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s